Ceremai Punya Cerita

6 September 2014 gw ikut anak anak backpackers beserta mapala palastiek bogor untuk hiking ke Gn. Ceremai yaitu gunung tertinggi sejawa barat dengan ketinggian 3078 mdpl klo ga salah ( berarti benar ). Naik gunung ini benar benar seperti naik gunung, pasalnya jalur linggar jati adalah yang tersulit karena lutut bisa ketemu dagu, tanjakan dengan sudut 30-60 derajat ( ga pake celcius ya ), jalannya licin, dan satu lagi diperjalanan tidak ada persedian air sehingga kita harus bawa air sebanyak mungkin sesuai dengan kebutuhan kita dari pos 2.

Dengan beranggotakan 20 orang ( hiking apa demo ??), kelompok kami yang terdiri dari komunitas backpacker, mapala palastiek, komunitas trashbag, dan dari teman seketemunya akhirnya disebut menjadi kelompok bala-bala dengan slogannya SEMPAK ( Salam Kompak ). Meskipun baru bertemu tapi team kami memang kompak terbukti saat tolong menolong dan saling berbagi selama pendakian, meskipun terkadang memang terselip keegoisan masing-masing anggota namun tetap dapat menjaga kekompakan serta keharmonisan team ( mungkin karena lelah ).

Pendakian dimulai dari pos 1 melalui jalur linggar jati pada pukul 08:15 waktu setempat ( tentunya WIB ). perjalanan menuju pos 2 memang tidak terlalu jauh namun jalanan aspal yang menanjak sempat menjadi PR bagi kami. Pos 2 adalah satu-satunya pos yang memiliki persedian air. Disini kita bisa mandi, sholat, makan mie rebus, makan gorengan atupun pesen es teh manis ( ada warung ). Singkat cerita setapak demi setapak dilalui perlahan tapi pasti ( pasti duduk ),  perjalanan yang panjang dan melelahkan pastinya ( sampai ada yang tertidur ) dari pagi hingga petang. Akhirnya leader memutuskan untuk camp di tanjakan seruni setelah melakukan ekspedisi ke sana ( lari dari pos pengalap ke seruni dan balik lagi ). Sampai di tanjakan seruni sudah pukul 6PM, kami langsung membuka tenda. Setelah membuka tenda, masak, dan makan malam bersama ( entah kenapa malam itu gw hanya bisa makan sesuap nasi ). Setelah makan kami bercanda dan bercerita, lalu pukul 9PM kami beristirahat untuk melanjutkan summit pada pukul 3AM nanti. Pada saat beristirahat awalnya gw kira ga dingin, gw tidur hanya beralaskan matras tanpa menggunakan Sleeping Bag. Sekitar pukul 11PM gw kedinginan dan akhirnya memutuskan menggunakan Sleeping Bag ( kesombongan hanya membuat derita diri sendiri ). Entah mungkin karena SB atau bukan gw mulai berhalusinasi ada yang membakar api unggun di samping tenda karena terlihat terang dan hangat, dan yang penting ada yang mengobrol dan akhirnya gw dapat tidur dengan nyaman ( karena hangat ).

Pukul 2AM gw terbangun karena memang jadwalnya untuk prepare summit, tanpa sadar gw melangkah keluar tenda dan ketika gw liat di sekitar masih sepi dan bersih ( ga ada bekas api unggun ), gw coba untuk kelilingin tenda-tenda namun ga ada tanda-tanda kehidupan alias masih pada molor. Jam 3AM yang lainnya baru pada keluar, prepare dan mulai jalan summit pukul 03:30AM. Gw berada di barisan paling belakang dengan copet, dio, dan mba anu ( nama disamarkan ). Tidak jauh dari kemah (masih di tanjakan seruni) mba anu pingsan, spontan gw kaget. Copet dan gw berusaha membuat dia sadar dengan menghangatkan pipinya. Mba anu melek dan kita coba bangunkan badannya keposisi duduk dan memberi air, setelah diberi air kita tanya-tanya masih ada respon sampai pada saat kita bilang “kita turun aja yuk mba kekemah” dia menjawab “katanya kita ga boleh turun sekarang” lalu mba anu berkata “mas yang disitu ( sambil nunjuk dio yang sedang duduk) katanya ga boleh duduk disitu nanti jatuh klo ada yang lewat”. Akhirnya kita pindah posisi ke lahan yang lebih luas, dan disitu mba anu celiangak celinguk tapi kita halangin. Ketika ditanya kenapa celingak-celinguk dia menjawab ada yang manggil-manggil namanya, gak lama kemudian dia seperti pingsan hanya saja ga lama melek lagi setelah kita panggil2 namanya. Kali ini ketika kita tanya-tanya dia hanya menjawab dengan anggukan dan geleng-geleng kepala. Melihat sikapnya yang aneh gw iseng dzikir dengan agak keras dan copetpun ikut dzikir, si mba anu bilang berisik kalian berisik sambil tutup kuping. Bingung dengan kondisi seperti ini entah hypo apa memang ada yang masuk akhirnya kita menunggu adzan subuh datang. Adzan terdengar sayup-sayup ( entah benar atau ga yang pasti gw dengar ), mba anu kembali pingsan untuk sesaat dan bangun lagi, setelah kita tes dengan beberapa pertanyaan dan diapun menjawab semua pertanyaan ( dalam hati bersyukur Alhamdulillah ). Tak lama adzan berhenti turun satu rombongan yang ternyata ga jadi summit karena medan yang terlalu berat menurut mereka, mereka pun join bersama kita. Sambil menunggu matahari terbit kita bercerita dan bercanda hingga si mba anu ikut tertawa ( lega rasanya udah kembali normal ). Setelah matahari terbit ( sekitar pukul 6AM ) kita kembali kekemah dan masak-masakan hingga pukul 9AM.

Pukul 9AM dio yang ingin banget kepuncak ( entah mau ngejar siapa atau merasa tanggung) akhirnya gw temenin ke sana. Perjalanan yang dilalui memang ga mudah, berkali kali gw istirahat dan dio masih nampak segar. Melalui pos batu tere yang naiknya harus pake akar ( untung ada tali ) rasanya udah ga sanggup lanjut namun tetap gw paksa. Sampai di pos batu lingga, penglihatan udah buyar seperti remang-remang, jantung berdegup kencang, keringat bercucuran, dan yang gw rasa lutut bergetar hebat. Sampai disini akhir perjuangan gw untuk summit padahal memang sangat disayangkan langit biru yang belum pernah gw liat sebelumnya sangat memukau tapi apa daya daripada maksa bisa celaka akhirnya gw berhenti di batu lingga. Dio gw suruh lanjut naik keatas dan persediaan air yang tinggal setengah liter gw kasih ke dio. Niatnya kepingin istirahat dan tidur sampe ketemu rombongan lagi, namun perut berbunyi dan para naga berontak ( baru ingat semalam ga makan, makanya ga punya tenaga ). Dengan sisa tenaga yang ada akhirnya gw turun ke camp, dengan memanfaatkan gaya grafitasi gw turun dengan berlari ( karena lutut udah lemas ).

Pukul 1PM, gw sampai di camp, gw habiskan satu mangkok jeli pemberian orang dan satu piring nasi goreng bikinan copet, setelah  kenyang kantukpun datang. Magrib rombongan yang summit pun tiba kelompok demi kelompok ( mereka terpecah-pecah ) dan akhirnya isya rombongan lengkap semua. Makan malam dan packing dilakukan, disaat akan turunpun kejadian subuh tadi terulang kembali namun kali ini ada orang yang berpengalaman hingga kejadian itu tidak berlangsung lama. Pukul 10PM kita mulai menelusuri jalan, dengan persediaan air 3botol ( untuk 20 orang ). Hingga persediaan air menipis rasa kering ditenggorokan, lelah, kantuk dicoba tuk ditahan. Perjalanan yang ditempuh terasa sangat lama karena kami berada dikesunyian. Tak lama mba anu berulah lagi kali ini ia turun tidak sendiri karena pada saat itu mba anu yang gw kenal berubah namun kali ini dia anteng sambil jalan dengan gagahnya dan sedikit-sedikit ngeluh “berisik” ( ciri khasnya ). Hingga melewati Pos Kuburan Kuda, dio yang berjalan paling depan berhenti dan memanggil nape ( leader team ), tak lama rombongan jalan lagi. Disetiap perjalanan setiap beberapa menit kita memanggil nama yang dibelakang kita untuk memastikan tidak ada yang tertinggal, oleh karena itu kita mesti tau siapa yang dibelakang. Sampai di pos laweung datar ( maaf klo salah ketik ) mba anu ditemani copet dan rizky untuk melanjutkan perjalan duluan.

Sampai di pos cibunar pukul 4AM, akhirnya setelah melewati perjalanan yang terasa melelahkan langsung pada pesan makan dan es teh manis di warung. Ketika pada sibuk diwarung copet bercerita tentang mba anu yang berjalan sambil merem alias tidur, dan sesampainya di cibunar mba anu melepaskan keril dan duduk disebelah copet. Terbangun dari tidurnya mba anu berkata “ini dimana bang copet?”. Copet menjawab “di pos 2”. “Kok gw udah disini aja, perasaan tadi masih di pos pangalap” tanya mba anu. Copet jawab lagi “iya, tadi lo tidur dibangunin kagak bangun jadinya gw gendong sampe sini.. neh bekas iler lo masih ada”. “Masa seh bang?” tanya mba anu. “Iya, klo ga percaya tanya yang lainnya” jawab copet asal. Ketika ditanya mba anu kitapun menjawab demekian, tapi nampaknya mba anu tetap ga percaya dan penasaran karena masih bertanya hingga ke perjalanan pulang.

Meskipun gagal muncak gw ga menyesal pernah ke ceremai karena gw bertemu banyak orang yang seru, asyik, dan gokil. Gw juga belajar mengenal diri sendiri dan dapat mengkontrol diri. Pelajaran yang gw dapat adalah gw ga boleh meremehkan, mungkin karena menggampangkan sesuatu seperti halnya ga makan atau tidur tanpa perlengkapan yang memadai ( tanpa sb ) dapat membuat diri sendiri terluka. Gunung bukan untuk ditaklukan tapi untuk dinikmati, bila belum siap jangan pernah untuk dipaksakan karena masih ada lain kali dan gunung ga akan pernah pergi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s